Selasa, 31 Juli 2012

proposal penelitian

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang masalah
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan yang paling utama bagi anak. Apa yang terjadi dalam keluarga merupakan proses pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya. Dalam hal ini, tugas orang tua sangatlah penting yakni dalam meletakkan pola dasar motivasi keagamaan pada anak, sehingga membentuk kepribadian anak yang agamis. Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2004 : 85), orang tua adalah pendidik dalam keluarga, dari orang tualah anak mula-mula menerima pendidikan. Oleh karena itu, bentuk utama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
Pendidikan yang diberikan orang tua kepada anaknya bersifat kodrati. Suasana dan strukturnya berjalan secara alami untuk membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan saling mempengaruhi antara orang tua dan anak.
Jalaludin Rahmat (1997 : 204) menyatakan lingkungan pendidikan agama yang pertama adalah keluarga dan pendidikan utama adalah orang tua, mereka pendidik bagi anak-anaknya karena secara kodrati, ibu dan bapak diberikan anugerah oleh Allah breupa naluri orang tua, karena naluri inilah timbul rasa kasih sayang kepada anak-anak mereka, karena secara moral, keluarga merasa terbebani tanggung jawab untuk memlihara, mengawasi dan melindungi serta membimbing keturunan mereka mereka. Jadi, pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan.
Orang tua mempunyai kewajiban mendidik anak-anaknya. Pendidikan agama harus dilakukan sejak masih anak-anak agar nilai-nilai agama tersebut melekat pada anak hingga usia remaja. Pendidikan tersebut harus dilakukan agar si anak tidak terjebak pada tindakan-tindakan yang negatif.
Agama sangat penting bagi kehidupan diri dan keluarga. Oleh karena itu, apabila tidak adanya motivasi perilaku beragama yang benar ketika anak sewaktu masih kecil ditambah pengaruh lingkungan kurang baik, menjadikan remaja acuh tak acuh terhada agama, dan menganggap agama hanya pelajaran di sekolah saja, padahal peranan agama sangat penting bagi remaja yang sedang mengalami kegoncangan jiwa.
Remaja yang tidak pernah mengenal agama semasa kecilnya, kebanyakan mereka bimbang dalam hidupnya, dan tidak tahu akan tujuan hidupnya, sehingga mereka dengan mudah terjerumus kedalam tindakan-tindakan yang negatif. Maka dari itu peranan keluarga sangatlah penting didalam memotivasi remaja agar mereka menjadi insan yang memiliki jiwa beragama.
Dari semua persoalan itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang akan dituangkan dalam sebuah skripsi yang akan diberi judul “PERANAN KELUARGA DALAM MEMOTIVASI PERILAKU BERAGAMA REMAJA”

B.     Perumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang tersebut diatas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah pengertian  remaja dan keluarga ?
2.      Bagaimanakah motivasi perilaku beragama pada remaja?
3.      Bagaimanakah peran keluarga dalam memberikan pendidikan agama pada remaja ?

C.     Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan penelitian
Sejalan dengan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui pengertian remaja dan keluarga.
2.      Untuk mengetahui motivasi perilaku beragama pada remaja.
3.      Untuk mengetahui peran keluarga dalam memberikan pendidikan agama pada remaja.



2.      Manfaat Penelitian
a.       Orang tua, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam mendidik anak-anaknya agar orang tua tidak salah dalam membimbing anak-anaknya hingga dewasa kelak.
b.      Remaja, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman remaja bahwa agama merupakan satu hal yang harus dimiliki untuk membentengi diri dari perilaku-perilaku yang negatif.
c.       Penelitian ini juga diharapkan juga bisa memberikan sumbangan ilmiah bagi wahana perkembangan ilmu psikologi terutama yang berhubungan dengan perilaku beragama remaja.






















BAB II
KERANGKA TEORI DAN KERANGKA BERFIKIR

A.    Kerangka Teori
a.      Pengertian remaja dan keluarga
Abu Ahmad (2007 : 10) mendefinisikan keluarga sebagai wadah yang sangat penting diantara individu dan merupakan kelompok social yang pertama, dimana anak-anak lah yang menjadi anggotanya.
Menurut Taqiyudin (2010 : 66) keluarga merupakan kumpulan individu yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Dalam sebuah keluarga terdapat suatu pendidikan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya yang bertujuan agar setelah dewasa nanti si anak tidak terjerumus dalam perilaku yang negatif. Secara garis besar pendidikan  dalam keluarga  dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : 1). Pembinaan Akidah dan akhlak 2). Pembinaan Intelektual 3). Pembinaan kepribadian dan sosial.
Pendidikan dalam keluarga adalah tanggung jawab orang tua, dengan peran ibu yang lebih banyak, hal ini dikarenakan ayah biasanya lebih banyak menggunakan waktunya untuk bekerja dan kurang ada waktu untuk dirumah, maka hubungan ibu dan anak lebih menonjol. Meskipun begitu, peran seorang ayah juga amat penting, terutama sebagai tauladan  dan pemberi pedoman, terutama soal pendidikan agama.
Untuk itulah pendidikan keluarga perlu ditingkatkan agar pendidikan anak di masa depan lebih bermutu dan menjadikan anak yang berguna bagi bangsa dan Negara, beriman dan berilmu pengetahuan. Tentunya disamping pendidikan yang dilakukan oleh keluarga, pendidikan agama lah yang sangat harus ada di dalam keluarga, karena agama merupakan pondasi utama bagi manusia untuk menjalankan hidup.
Jalaludin Rahmat (1997 : 204) menyatakan lingkungan pendidikan agama yang pertama adalah keluarga dan pendidikan utama adalah orang tua, mereka pendidik bagi anak-anaknya karena secara kodrati, ibu dan bapak diberikan anugerah oleh Allah breupa naluri orang tua, karena naluri inilah timbul rasa kasih sayang kepada anak-anak mereka, karena secara moral, keluarga merasa terbebani tanggung jawab untuk memlihara, mengawasi dan melindungi serta membimbing keturunan mereka mereka. Jadi, pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan.
Menurut Zakiah Darajat (1996 : 96) bahwa remaja bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara bertindak atau cara berfikir, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
Remaja yang tidak pernah mengenal agama semasa kecilnya, kebanyakan mereka bimbang dalam hidupnya, dan tidak tahu akan tujuan hidupnya, sehingga mereka dengan mudah terjerumus kedalam tindakan-tindakan yang negatif. Maka dari itu peranan keluarga sangatlah penting didalam memotivasi remaja agar mereka menjadi insan yang memiliki jiwa beragama.
b.      Motivasi Perilaku Beragama Pada Remaja
Masa remaja merupakan masa dimana remaja mulai mengurangi hubungan dengan orang tuanya dan berusaha berdiri sendiri dalam menghadapi kenyataan-kenyataan ada. Hal tersebut sangatlah rawan apabila tidak adanya motivasi bagi remaja untuk memiliki benteng guna melindungi dirinya dari perilaku negatif yakni pendidikan agama.
Agama sangat penting bagi kehidupan diri dan keluarga. Oleh karena itu, apabila tidak adanya motivasi perilaku beragama yang benar ketika anak sewaktu masih kecil ditambah pengaruh lingkungan kurang baik, menjadikan remaja acuh tak acuh terhada agama, dan menganggap agama hanya pelajaran di sekolah saja, padahal peranan agama sangat penting bagi remaja yang sedang mengalami kegoncangan jiwa.
c.       Peran Keluarga dalam Memberikan Pendidikan Agama Pada Remaja.
Kurangnya pendidikan agama pada remaja dapat menyebabkan remaja tersebut akan dengan mudah terkontaminasi perilaku-perilaku yang negatif yang akan menjadikan mereka tidak patuh dan tidak tunduk terhadap agama.
Dalam hal ini orang tua mempunyai tanggung jawab yang penuh dalam mendidik atau mengisi jiwa anak-anaknya. Apabila orang tua salah dalam memberikan bimbingan, maka akan berakibat buruk pula bagi perilaku beragama remaja. Tapi sebaliknya, jika tepat dalam  memberikan bimbingan, maka akan berakibat baik pula bagi perilaku beragama remaja.


B.     Kerangka berfikir
Remaja sebagai generasi yang mempunyai tugas dan tanggung jawab masa depan bangsa pada hakekatnya ssedang menuju proses pendewasaan. Jika remaja dihadapkan pada keadaan lingkungan yang kurang serasi dan ketidakstabilan, remaja mudah terjatuh pada kesengsaraan batin, hidup penuh dengan kelemahan, ketidakpastian dan kebingungan. Remaja membutuhkan dukungan dan perhatian dari keluarga dan membutuhkan pegangan hidup sebagai petunjuk jalan yaitu agama.
Kurangnya pendidikan agama pada remaja dapat menyebabkan mereka menjadi tidak patuh dan tunduk terhadap aturan agama. Kenyataan menunjukan bahwa penyimpangan yang dilakukan remaja adalah akibat dari kurang tertanamnya jiwa agama pada remaja yang semestinya dididik dari sejak kecil dengan jalan membiasakan hal-hal baik yang sesuai dengan ajaran agama sehingga kebiasaan itu menjadi dasar kepribadian.
Dalam hal ini orang tua mempunyai tanggung jawab yang penuh dalam mendidik atau mengisi jiwa anak-anaknya. Apabila orang tua salah dalam memberikan bimbingan, maka akan berakibat buruk pula bagi perilaku beragama remaja. Tapi sebaliknya, jika tepat dalam  memberikan bimbingan, maka akan berakibat baik pula bagi perilaku beragama remaja.
Masa remaja merupakan masa dimana remaja mulai mengurangi hubungan dengan orang tuanya dan berusaha berdiri sendiri dalam menghadapi kenyataan-kenyataan ada. Semua itu menyebabkannya berusaha mencari pertolongan Allah SWT. Keyakinan ramaja pada masa awal bukanlah berupa keyakinan-keyakinan pikiran, akan tetapi lebih berfokus pada kebutuhan jiwa.



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Sasaran, Lokasi dan Waktu Penelitian
Yang akan menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah remaja dari 2 keluarga yang berbeda  yaitu remaja dari latar belakang keluarga yang broken home dengan remaja yang latar belakang keluarga baik-baik. Lokasi yang akan dijadikan tempat penelitian yaitu di desa leuwikujang kecamatan leuwimunding kabupaten majalengka, dan waktu penelitian tersebut dilakukan selama 40 hari.
B.     Metode Penelitian
Dilihat dari tujuan yang akan digunakan dalam  penelitian, metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan survey. Karena penelitian ini bertujuan untuk mencari informasi  tentang hubungan antar dua variabel yakni hubungan antara peranan keluarga dalam memotivasi perilaku beragama remaja.
C.     Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data  yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
a.       Teknik Observasi
Sebagai alat pengumupul data, observasi memberikan sumbangsih yang sangat penting dalam penelitian deskriptif, jenis-jenis observasi tertentu dapat diperoleh melalui pengamatan langsung oleh peneliti.
Dalam hal ini penulis mengadakan pengamatan langsung dan mencatat secara sistematis terhadap segala sesuatu yang diteliti, guna memperoleh gambaran secara umum tentang peranan keluarga dalam memotivasi perilaku beragama remaja.
b.      Teknik Wawancara
Dalam teknik wawancara, Penulis melakukan wawancara  atau komunukasi langsung dengan responden yakni 2 remaja yang berlatar belakang keluarga yang berbeda untuk memperoleh data tentang peranan keluarga dalam memotivasi perilaku beragama remaja.

D.    Teknik Analisis Data
a.       Metode Deduktif
Adalah proses analisis data yang menggunakan premis-premis yang bersifat umum menuju ke arah khusus.
b.      Metode Induktif
Proses analisis data yang menggambarkan premis-premis yang bersifat khusus menuju umum.
c.       Metode Kovergentif
Yaitu proses analisis data yang menggunakan perpaduan metode deduktif dan metode induktif






















DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Abu, Sosiologi Pendidikan, Jakarta, PT Rineka Cipta, 2007

Taqiyudin, Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah, Cirebon, Pangger Publishing, 2010

Rahmat, Jalaludin, 1997, Keluarga Muslim Dalam Masyarakat Modern, Bandung : Rosda Karya

Djamarah, Bahri, Syaiful, 2004, Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Keluarga, Jakarta, Rineka Cipta

Darajat, Zakiah, 1996, Remaja Harapan dan Tantangan, Bandung : Remaja Rosda Karya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar