BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang masalah
Keluarga
adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.
Keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan yang paling utama bagi
anak. Apa yang terjadi dalam keluarga merupakan proses pendidikan yang sangat
berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya. Dalam hal ini, tugas orang tua
sangatlah penting yakni dalam meletakkan pola dasar motivasi keagamaan pada
anak, sehingga membentuk kepribadian anak yang agamis. Menurut Syaiful Bahri
Djamarah (2004 : 85), orang tua adalah pendidik dalam keluarga, dari orang
tualah anak mula-mula menerima pendidikan. Oleh karena itu, bentuk utama dari
pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
Pendidikan
yang diberikan orang tua kepada anaknya bersifat kodrati. Suasana dan
strukturnya berjalan secara alami untuk membangun situasi pendidikan. Situasi
pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan saling
mempengaruhi antara orang tua dan anak.
Jalaludin Rahmat (1997 : 204) menyatakan lingkungan pendidikan
agama yang pertama adalah keluarga dan pendidikan utama adalah orang tua,
mereka pendidik bagi anak-anaknya karena secara kodrati, ibu dan bapak
diberikan anugerah oleh Allah breupa naluri orang tua, karena naluri inilah
timbul rasa kasih sayang kepada anak-anak mereka, karena secara moral, keluarga
merasa terbebani tanggung jawab untuk memlihara, mengawasi dan melindungi serta
membimbing keturunan mereka mereka. Jadi, pendidikan keluarga merupakan
pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan.
Orang
tua mempunyai kewajiban mendidik anak-anaknya. Pendidikan agama harus dilakukan
sejak masih anak-anak agar nilai-nilai agama tersebut melekat pada anak hingga
usia remaja. Pendidikan tersebut harus dilakukan agar si anak tidak terjebak
pada tindakan-tindakan yang negatif.
Agama
sangat penting bagi kehidupan diri dan keluarga. Oleh karena itu, apabila tidak
adanya motivasi perilaku beragama yang benar ketika anak sewaktu masih kecil
ditambah pengaruh lingkungan kurang baik, menjadikan remaja acuh tak acuh
terhada agama, dan menganggap agama hanya pelajaran di sekolah saja, padahal
peranan agama sangat penting bagi remaja yang sedang mengalami kegoncangan
jiwa.
Remaja
yang tidak pernah mengenal agama semasa kecilnya, kebanyakan mereka bimbang
dalam hidupnya, dan tidak tahu akan tujuan hidupnya, sehingga mereka dengan
mudah terjerumus kedalam tindakan-tindakan yang negatif. Maka dari itu peranan
keluarga sangatlah penting didalam memotivasi remaja agar mereka menjadi insan
yang memiliki jiwa beragama.
Dari
semua persoalan itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang akan
dituangkan dalam sebuah skripsi yang akan diberi judul “PERANAN KELUARGA DALAM
MEMOTIVASI PERILAKU BERAGAMA REMAJA”
B.
Perumusan
Masalah
Bertitik
tolak dari latar belakang tersebut diatas maka penulis merumuskan masalah
sebagai berikut :
1.
Bagaimanakah
pengertian remaja dan keluarga ?
2.
Bagaimanakah
motivasi perilaku beragama pada remaja?
3.
Bagaimanakah
peran keluarga dalam memberikan pendidikan agama pada remaja ?
C.
Tujuan
dan Kegunaan Penelitian
1.
Tujuan
penelitian
Sejalan
dengan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut :
1.
Untuk
mengetahui pengertian remaja dan keluarga.
2.
Untuk
mengetahui motivasi perilaku beragama pada remaja.
3.
Untuk
mengetahui peran keluarga dalam memberikan pendidikan agama pada remaja.
2.
Manfaat
Penelitian
a.
Orang
tua, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam mendidik
anak-anaknya agar orang tua tidak salah dalam membimbing anak-anaknya hingga
dewasa kelak.
b.
Remaja,
hasil penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman remaja
bahwa agama merupakan satu hal yang harus dimiliki untuk membentengi diri dari
perilaku-perilaku yang negatif.
c.
Penelitian
ini juga diharapkan juga bisa memberikan sumbangan ilmiah bagi wahana
perkembangan ilmu psikologi terutama yang berhubungan dengan perilaku beragama
remaja.
BAB II
KERANGKA TEORI
DAN KERANGKA BERFIKIR
A.
Kerangka
Teori
a.
Pengertian remaja dan keluarga
Abu
Ahmad (2007 : 10) mendefinisikan keluarga sebagai wadah yang sangat penting
diantara individu dan merupakan kelompok social yang pertama, dimana anak-anak
lah yang menjadi anggotanya.
Menurut
Taqiyudin (2010 : 66) keluarga merupakan kumpulan individu yang terdiri dari
ayah, ibu, dan anak. Dalam sebuah keluarga terdapat suatu pendidikan yang
dilakukan orang tua terhadap anaknya yang bertujuan agar setelah dewasa nanti
si anak tidak terjerumus dalam perilaku yang negatif. Secara garis besar
pendidikan dalam keluarga dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : 1).
Pembinaan Akidah dan akhlak 2). Pembinaan Intelektual 3). Pembinaan kepribadian
dan sosial.
Pendidikan
dalam keluarga adalah tanggung jawab orang tua, dengan peran ibu yang lebih
banyak, hal ini dikarenakan ayah biasanya lebih banyak menggunakan waktunya
untuk bekerja dan kurang ada waktu untuk dirumah, maka hubungan ibu dan anak
lebih menonjol. Meskipun begitu, peran seorang ayah juga amat penting, terutama
sebagai tauladan dan pemberi pedoman,
terutama soal pendidikan agama.
Untuk
itulah pendidikan keluarga perlu ditingkatkan agar pendidikan anak di masa
depan lebih bermutu dan menjadikan anak yang berguna bagi bangsa dan Negara,
beriman dan berilmu pengetahuan. Tentunya disamping pendidikan yang dilakukan
oleh keluarga, pendidikan agama lah yang sangat harus ada di dalam keluarga,
karena agama merupakan pondasi utama bagi manusia untuk menjalankan hidup.
Jalaludin
Rahmat (1997 : 204) menyatakan lingkungan pendidikan agama yang pertama adalah
keluarga dan pendidikan utama adalah orang tua, mereka pendidik bagi
anak-anaknya karena secara kodrati, ibu dan bapak diberikan anugerah oleh Allah
breupa naluri orang tua, karena naluri inilah timbul rasa kasih sayang kepada
anak-anak mereka, karena secara moral, keluarga merasa terbebani tanggung jawab
untuk memlihara, mengawasi dan melindungi serta membimbing keturunan mereka
mereka. Jadi, pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan
jiwa keagamaan.
Menurut
Zakiah Darajat (1996 : 96) bahwa remaja bukanlah anak-anak baik bentuk badan
ataupun cara bertindak atau cara berfikir, tetapi bukan pula orang dewasa yang
telah matang.
Remaja
yang tidak pernah mengenal agama semasa kecilnya, kebanyakan mereka bimbang
dalam hidupnya, dan tidak tahu akan tujuan hidupnya, sehingga mereka dengan
mudah terjerumus kedalam tindakan-tindakan yang negatif. Maka dari itu peranan
keluarga sangatlah penting didalam memotivasi remaja agar mereka menjadi insan
yang memiliki jiwa beragama.
b.
Motivasi Perilaku Beragama Pada Remaja
Masa
remaja merupakan masa dimana remaja mulai mengurangi hubungan dengan orang
tuanya dan berusaha berdiri sendiri dalam menghadapi kenyataan-kenyataan ada.
Hal tersebut sangatlah rawan apabila tidak adanya motivasi bagi remaja untuk memiliki
benteng guna melindungi dirinya dari perilaku negatif yakni pendidikan agama.
Agama
sangat penting bagi kehidupan diri dan keluarga. Oleh karena itu, apabila tidak
adanya motivasi perilaku beragama yang benar ketika anak sewaktu masih kecil
ditambah pengaruh lingkungan kurang baik, menjadikan remaja acuh tak acuh
terhada agama, dan menganggap agama hanya pelajaran di sekolah saja, padahal
peranan agama sangat penting bagi remaja yang sedang mengalami kegoncangan
jiwa.
c.
Peran Keluarga dalam Memberikan Pendidikan Agama Pada Remaja.
Kurangnya
pendidikan agama pada remaja dapat menyebabkan remaja tersebut akan dengan
mudah terkontaminasi perilaku-perilaku yang negatif yang akan menjadikan mereka
tidak patuh dan tidak tunduk terhadap agama.
Dalam
hal ini orang tua mempunyai tanggung jawab yang penuh dalam mendidik atau
mengisi jiwa anak-anaknya. Apabila orang tua salah dalam memberikan bimbingan,
maka akan berakibat buruk pula bagi perilaku beragama remaja. Tapi sebaliknya,
jika tepat dalam memberikan bimbingan,
maka akan berakibat baik pula bagi perilaku beragama remaja.
B.
Kerangka
berfikir
Remaja
sebagai generasi yang mempunyai tugas dan tanggung jawab masa depan bangsa pada
hakekatnya ssedang menuju proses pendewasaan. Jika remaja dihadapkan pada
keadaan lingkungan yang kurang serasi dan ketidakstabilan, remaja mudah
terjatuh pada kesengsaraan batin, hidup penuh dengan kelemahan, ketidakpastian
dan kebingungan. Remaja membutuhkan dukungan dan perhatian dari keluarga dan
membutuhkan pegangan hidup sebagai petunjuk jalan yaitu agama.
Kurangnya
pendidikan agama pada remaja dapat menyebabkan mereka menjadi tidak patuh dan
tunduk terhadap aturan agama. Kenyataan menunjukan bahwa penyimpangan yang
dilakukan remaja adalah akibat dari kurang tertanamnya jiwa agama pada remaja yang
semestinya dididik dari sejak kecil dengan jalan membiasakan hal-hal baik yang
sesuai dengan ajaran agama sehingga kebiasaan itu menjadi dasar kepribadian.
Dalam
hal ini orang tua mempunyai tanggung jawab yang penuh dalam mendidik atau
mengisi jiwa anak-anaknya. Apabila orang tua salah dalam memberikan bimbingan,
maka akan berakibat buruk pula bagi perilaku beragama remaja. Tapi sebaliknya,
jika tepat dalam memberikan bimbingan,
maka akan berakibat baik pula bagi perilaku beragama remaja.
Masa
remaja merupakan masa dimana remaja mulai mengurangi hubungan dengan orang
tuanya dan berusaha berdiri sendiri dalam menghadapi kenyataan-kenyataan ada. Semua
itu menyebabkannya berusaha mencari pertolongan Allah SWT. Keyakinan ramaja
pada masa awal bukanlah berupa keyakinan-keyakinan pikiran, akan tetapi lebih
berfokus pada kebutuhan jiwa.
BAB III
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
Sasaran,
Lokasi dan Waktu Penelitian
Yang
akan menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah remaja dari 2 keluarga yang
berbeda yaitu remaja dari latar belakang
keluarga yang broken home dengan remaja yang latar belakang keluarga baik-baik.
Lokasi yang akan dijadikan tempat penelitian yaitu di desa leuwikujang
kecamatan leuwimunding kabupaten majalengka, dan waktu penelitian tersebut
dilakukan selama 40 hari.
B.
Metode
Penelitian
Dilihat
dari tujuan yang akan digunakan dalam
penelitian, metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan survey. Karena penelitian ini bertujuan untuk mencari
informasi tentang hubungan antar dua
variabel yakni hubungan antara peranan keluarga dalam memotivasi perilaku
beragama remaja.
C.
Teknik
Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu :
a.
Teknik
Observasi
Sebagai
alat pengumupul data, observasi memberikan sumbangsih yang sangat penting dalam
penelitian deskriptif, jenis-jenis observasi tertentu dapat diperoleh melalui
pengamatan langsung oleh peneliti.
Dalam
hal ini penulis mengadakan pengamatan langsung dan mencatat secara sistematis
terhadap segala sesuatu yang diteliti, guna memperoleh gambaran secara umum
tentang peranan keluarga dalam memotivasi perilaku beragama remaja.
b.
Teknik
Wawancara
Dalam
teknik wawancara, Penulis melakukan wawancara
atau komunukasi langsung dengan responden yakni 2 remaja yang berlatar
belakang keluarga yang berbeda untuk memperoleh data tentang peranan keluarga
dalam memotivasi perilaku beragama remaja.
D.
Teknik
Analisis Data
a.
Metode
Deduktif
Adalah
proses analisis data yang menggunakan premis-premis yang bersifat umum menuju
ke arah khusus.
b.
Metode
Induktif
Proses
analisis data yang menggambarkan premis-premis yang bersifat khusus menuju umum.
c.
Metode
Kovergentif
Yaitu
proses analisis data yang menggunakan perpaduan metode deduktif dan metode
induktif
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad,
Abu, Sosiologi Pendidikan, Jakarta, PT Rineka Cipta, 2007
Taqiyudin,
Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah, Cirebon, Pangger Publishing, 2010
Rahmat,
Jalaludin, 1997, Keluarga Muslim Dalam Masyarakat Modern, Bandung :
Rosda Karya
Djamarah,
Bahri, Syaiful, 2004, Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Keluarga,
Jakarta, Rineka Cipta
Darajat,
Zakiah, 1996, Remaja Harapan dan Tantangan, Bandung : Remaja Rosda Karya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar